Nyoba Levitasi, Yuk!

Mungkin Anda pernah dengar istilah levitasi. Atau minimal Anda pernah melihat gaya fotografi yang menampilkan objeknya seolah-olah terbang atau melayang. Foto levitasi sering dijuluki “flying without wing” ini semula diperkenalkan oleh fotografer Jepang… (bla-bla-bla-bla-bla)…
udah deh, untuk teori silakan tanya saja sama Paman Google. Yang pasti, kemarin saya mencoba teknik ini yang didapatkan tanpa edit photoshop, alias hanya mengandalkan kamera terbaik di dunia: si merah canon PSA 3100is (Karena hanya dia satu-satunya yang saya punya). Setelah membaca beberapa tips dari Internet, terus langsung ujicoba di halaman belakang kantor, jleb.. inilah hasilnya….

Saya masih belajar ni… Jadi maaf saja kalau foto di atas masih jelek. Masih banyak PR yang harus dikerjakan biar fotonya jauh lebih baik lagi. Posting ini akan diupdate begitu saya dapatkan foto levitasi yang lebih baik lagi.

Leave a comment

LADY GAGA(L) DAN EUFORIA KESESATAN JAHILIAH

Baru-baru ini media massa seakan tak pernah kekurangan berita dengan terus menerus mengekspos polemik kedatangan Lady Gaga untuk konser di Jakarta. Ada yang menganggap ini ‘pengalihan isu’, ada juga yang menganggap berita ini dibesar-besarkan, dan berbagai  opini lain pun semakin bergulir dengan liarnya. Namun, yang jelas ke mana pun opini itu bergulir, semuanya menjadi santapan lezat media massa.

Benar adanya bahwa media massa lah yang membawa alam pikiran kita untuk beropini mengenai aktris kontroversial ini. Sialnya, bagi kita yang melek informasi tidak bisa terhindar dari polemik ini, minimal dengan ikut serta beropini, bahkan lainnya berupaya mendukung maupun menerima dengan berbagai cara termasuk orasi.

Image (sumber: http://www.mediaindonesia.com)

Dari berbagai media yang lekat dengan keseharian kita bisa menebak siapa-siapa saja yang menolak, serta siapa-siapa saja yang mendukung. Kalangan yang hidup di dunia yang sama dengan Lady Gaga(l) serta para fans dan simpatisannya tentu sangat menantikan kedatangannya. Sementara mereka yang senantiasa “mengatasnamakan Islam” menolak dengan berbagai cara. Dalam hal ini, FPI menjadi bulan-bulanan media dengan ditunjuk sebagai satu kelompok fundamentalis keras yang menolak. Memang begitu adanya. Namun, saya yakin, penolakan itu tidak hanya muncul dari FPI, tapi juga umat beragama yang masih peduli dengan moral dan budaya bangsa. Buktinya, Negara lain yang bukan mayoritas muslim seperti Korea Selatan dan Filipina pun sempat melakukan penolakan. Fakta mengejutkan justru datang dari tanah air kita sendiri di mana ada tokoh organisasi Islam yang mendukung, dan beberapa lainnya tidak mengambil sikap.

Prihatin Moral-Budaya

Yang paling menggelikan tentu saja tingkah laku fans yang dengan kesetiaan dan militansinya rela melakukan apapun demi sang idola. Mengantri dan berdesak-desakan demi selembar tiket; berpakaian menyerupai idolanya; memperagakan gerak tarinya; bahkan rela bepergian jauh dan mengambil resiko untuk sekadar melihat langsung idolanya. Apakah untuk menjadi fans mesti begitu? Lalu apa manfaatnya selain kepuasan duniawi yang hanya bersifat sesaat?

Gejala ini menjadi sampel nyata dari kondisi moralitas dan budaya generasi muda kita. Kecintaannya pada “mother monster” melebihi segalanya. Mengkultuskan seseorang secara berlebihan bisa jadi dosa besar karena sangat dekat dengan kemusyrikan. Bahkan nabi besar Muhammad SAW yang dipuja setiap detik oleh seluruh ummat manusia pun enggan dirinya dikultuskan dan Allah melarang melakukan itu (QS 9:31). Mengkultuskan Rosul dan orang alim saja sudah dilarang, apalagi memuja orang kafir semacam Lady Gaga(l). Demikian juga dengan meniru berbagai tata cara yang dilakukan tokoh kontroversial ini, meniru cara berpakaian, gerak-gerik, lirik, dan elemen lainnya juga dilarang dalam Islam, seperti dalam hadist:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” [ HR. Ahmad ]

Jadi, kepada fans Lady Gaga(l), silakan ikuti dia jika itu pilihan dan kesukaan kalian maka dengan senang hati idolamu itu akan menemanimu di akhirat nanti.

Kondisi remaja yang demikian mencerminkan kehidupan mereka semakin jauh dari ajaran agama. Semakin jauh pula dari nilai-nilai budaya luhur bangsa yang konon berbudaya unik dan asli. Mereka seolah bangga jika bisa melihat idolanya, apalagi jika berhasil menirukan gayanya. Coba pikir kembali, apa yang bisa dibanggakan? Bukankah semua itu hanya proses imitasi/meniru? Sebagai orang yang beragama mestinya mereka malu karena telah mengalami disorientasi moral dan mengalami kemunduran budaya. Islam adalah agama yang menyemurnakan ajaran sebelumnya. Maka, jika kita kembali mengikuti ajaran lama, yaitu jahilliah, itu merupakan kemunduran besar.

Kepekaan fans juga mesti dipertanyakan. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan biaya besar yang dikeluarkan demi selembar tiket. Rupiah yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan itu jumlahnya sangat besar dan jauh lebih bermakna. Setiap rupiah yang mereka keluarkan demi memuaskan hasrat sesaat itu akan jauh lebih bermakna jika disumbangkan pada fakir-miskin, anak terlantar, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan. Seandainya nilai kepuasan dari menyaksikan idola bisa dikesampingkan dan diganti dengan nilai kepuasan menolong sesama, sungguh mulia.

Duplikasi Instan   

Sungguh menggelikan juga ada pengamat dan pelakon dunia musik tanah air yang berpendapat begini: “Bagaimana dunia musik kita mau maju, jika masalah ini (konser Ladi Gaga) saja harus diributkan.” Satu pertanyaan yang ingin saya ajukan padanya adalah, “kemajuan musik yang mana?”

Gejala-gejala dunia musik saat ini justru menunjukkan kemunduran. Munculnya Boyband-Girlband yang marak saat ini memang memberikan pilihan baru. Tapi dilihat dari unsur orisinalitas, dan kreativitas itu semua merupakan hasil meniru yang akut. Band, penyanyi, lagu dan musik Indonesia hanya sedikit yang asli. Kebanyakan merupakan hasil duplikasi instan dari musik luar negeri, terutama musik barat dan Asia Timur (Jepang-Korea). Kenapa duplikasi instan? Lihat saja, mereka tidak hanya meniru jenis musiknya, tetapi juga gaya berpakaian, gerak tari, bahkan nada, dan lirik mereka. Lantas, untuk melakukan duplikasi seperti ini saja mesti dilakukan melalui live show dengan cost yang sangat besar? Padahal media massa saat ini hampir tidak membatasi kita untuk melihat dan meniru. Televisi dan internet bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

Seharusnya pihak-pihak yang mendukung mulai sadar diri bahwa mereka tidak membawa kemaslahatan apapun bagi masyarakat, kecuali kepuasan duniawi yang semu dan sekejap mata. Justru sebaliknya, tindakan mereka tidak sebatas menghadirkan polemik, tetapi juga jelas-jelas menjerumuskan masa depan generasi muda serta membangun budaya jahilliah yang kurang bermanfaat.

Menolak atau Menerima?

Pertanyaan ini merupakan simpulan pandangan saya, juga akan menjadi akhir dari polemik yang ada. Berangkat dari berbagai pertimbangan baik agama, moral, ekonomi, dan sosial-budaya, rasanya tidak ada alasan bagi orang yang beriman untuk mendukung apalagi menantikan “mother monster” ke negeri ini. Bukan sok suci seperti yang digaungkan para pendukung, tapi amal ma’ruf nahyi munkar harus ditegakkan dalam berbagai aspek. Masalah ini memang hanya secuil dari berbagai pelik “kemunkaran” yang merajalela di Indonesia. Masalah korupsi, dangdut koplo, prostitusi, terorisme, semua harus ditolak dengan tegas. Pun gerakan-gerakan jahilliah seperti Lady Gaga(l), serta serentetan konser serupa dan acara berkedok entertainment yang merupakan pembodohan.

Namun tentu saja semua itu harus dilakukan dengan cara yang baik. Jika semua masih bisa diupayakan dengan rahmat, kenapa harus memberikan ancaman serta kekerasan. Sebagai ummat Islam kita harus membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin.  Lagipula, masalah Lady Gaga(l) bukan lagi sekadar masalah agama (Islam) karena jika benar semua agama itu baik dan amal ma’ruf nahyi munkar, maka tidak ada peluang untuk dia datang ke negeri ini.

Untuk ini, memang diperlukan pemimpin-pemimpin dan para aparat yang amanah sekaligus peka. Tapi saying, agaknya mereka memilih untuk memberi jalan tengah dengan tetap mengizinkan konser dengan sejumlah syarat yang tidak esensial. Padahal jika mereka memang peka dan berfikir cerdas dan berbudaya, tidak ada alasan untuk mempertaruhkan masa depan generasi muda hanya demi seorang Lady Gaga(l) atau demi uang promotor yang terlanjur menggelontor. Para petinggi Negara, pejabat serta tokoh agama ada baiknya berdiskusi dalam satu ruangan dan berfikir tentang kebaikan bangsa. Penolakan atau pencekalan hendaknya dilakukan berdasarkan pertimbangan moral, budaya, pendidikan dan amal ma’ruf nahyi munkar, bukan atas dasar tekanan dari ormas dan golongan tertentu.

Ormas FPI tampil di garda terdepan dengan membusungkan dada untuk menolak. Namun sayang, cara-cara dengan ancaman kekerasan masih saja dipertontonkan. Lucu juga ketiga seorang habib bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Mustafa Ya’qub berdebat dalam AKI Malam TVOne 19/5/2012 jam 20 WIB. Ali Mustafa Ya’qub menyatakan bahwa Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” melarang nahi munkar dengan kemunkaran seperti anarkisme. Sebaliknya, Sang Habib bersikeras boleh melakukan nahi munkar dengan kekerasan. Konyolnya, sang habib berargumen atas dasar “kitab FPI” yang dibawanya dan dipertentangkan dengan “Ihya Ulumuddin”. Rupanya sang Habib salah bawa kitab.

Pada kondisi saat ini kita memang masih membutuhkan pendobrak seperti FPI, minimal untuk membangunkan polisi yang sering tidur dalam menanggapi berbagai kemaksiatan. Namun, FPI dan ormas lainnya yang serupa mesti menyadari kondisi saat ini di mana kemaksiatan terjadi dengan berbagai cara karena kebodohan dan tetidaktahuan. Masyarakat yang heterogen ini ada yang sedari lahir dalam kejahiliahan, ada pula yang terjerumus ke dalam kebodohan dan ketidaktahuan agama karena lingkungan dan kurangnya pendidikan. Jadi cara-cara preventif seperti pendidikan dan pengarahan harus dikedepankan oleh semua pihak. Ke depan, tentu saja kita tidak bisa menerima kekerasan atas nama agama dipertontonkan di depan mata. Syaratnya, kembali kepada aparatur negara dan para pemimpin agama yang amanah dan peka, serta masyarakat yang terdidik dan beriman.

, , , ,

Leave a comment

Cara Sederhana Membuat Efek HDR dengan Photoshop

HDR (High Dynamic Range) sering digunakan untuk kepentingan artistik supaya foto terlihat lebih dramatis. Untuk menghasilkan foto HDR diperlukan teknik tertentu dan alat yang mumpuni: selain kamera SLR, juga tripod dan perlengkapan lainnya serta sentuhan aplikasi pengolah foto.
Namun demikian, Photoshop memberikan kemudiahan bagi kita untuk ‘merekayasa’ atau ‘mendramatisasi’ sebuah foto dengan efek HDR sekalipun fotonya diambil dengan perangkat pas-pasan semacam kamera saku atau HP. Berikut langkah-langkahnya dengan Adobe Photoshop CS 3:
1. open file yang akan diubah. Misal saya mengambil foto ini.

2. klik image>adjustment>shadow/highlight. Set nilai shadow kira-kira 50 dan highlight 50.

3. klik kanan pada layer>duplicate layer atau tekan ctrl + j
4. Pada layer 0 copy 1 tekan kembali image>adjustment>desaturate, sehingga layer aktif menjadi hitam putih.

5. ubah blending mode layer menjadi overlay

6. duplikat layer 0 copy 1 seperti cara nomor 2 (ctrl + j)
7. klik filter>other>highpass. Set radiusnya sekitar 60-70 pixels.

8. ubah blending mode layer menjadi Soft light sehingga efeknya terlihat lebih halus. Hasilnya:

Bagaimana? hasil ini tidak terlalu bagus, tapi lumayan lah buat pemula seperti saya. Jadi, silakan mencoba.

2 Comments

Memotret di Tepi Pantai

Pantai selalu menjadi tempat yang seksi untuk dikunjungi. Di pantai kita bisa menikmati angin laut yang berhembus, pasir yang bergerisik, ombak yang menggelora, dan tentunya terbit tenggelamnya matahari. Tak heran jika saat liburan tiba pantai selalu penuh sesak oleh para pengunjung.
Berbagai momen yang kita alami sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Akan menjadi sebuah potret yang menggiurkan jika kita bisa mengabadikan berbagai momen dan suasana pantai. Mungkin karen aitulah banyak sekali foto bertema pantai yang bisa kita temui. Gak percaya?? Coba aja googling….
Namun nyatanya memotret di tepi pantai ini gampang-gampang susah. Hasrat untuk menghasilkan foto yang bagus seringkali terbentur fasilitas, cuaca, dan keadaan pantai itu sendiri. Berikut saya akan berbagi pengalaman memotret di pantai dengan kamera terbaik yang saya miliki: Canon Powershot A3100iS_(memang hanya kamera pocket “si kukut” inilah yang saya punya).
Sambil bermimpi kelak mendapatkan kamera yang lebih bagus dengan spesifikasi mumpuni, berikut saya sajikan beberapa poin yang bisa Anda perhatikan jika akan berlibur ke pantai dan memotret di tempat indah itu.
1. Siapkan perlengkapan memotret semaksimal mungkin yang bisa Anda siapkan. Jika mempunyai aksesoris pendukung seperti tripod, filter, dan pelindung lensa akan sangat membantu. Saya memotret ini dengan menggunakan timer 10 detik, kamera diletakkan di atas batu. Hasilnya:

momennya dapat, tapi kualitas kurang. Selidik punya selidik, ternyata lensa terkena uap air shingga menjadi buram, dan kamera sedikit bergoyang terkena angin yang cukup kencang sehingga fokusnya pun kurang. Saya pun berkilah, foto ini akan lebih bagus jika kamera menggunakan tripod, pelindung lensa, dan diambil oleh fotografer handal….ya iya lah….
2. Perhitungkan cuaca. Saat cerah kita dengan mudah memotret berbagai momen terutama yang menonjolkan unsur sinar matahari. Namun saat cuaca kurang bersahabat, matahari lebih sering tersembunyi, angin cukup kencang, dan ombak mencegah kita mendekat ke bibir pantai. Nah, jika cuaca hujan, berawan, dan berangin kencang, tak ada salahnya jika kita alihkan perhatian pada objek-objek lain seperti batu, debur ombak, awan hitam, pohon kelapa, dan sebagainya.
Cuaca cerah

Cuaca mendung

3. Jangan menggunakan jasa preman pantai untuk memotretkan kamera untuk kita. Selain hasilnya tidak dijamin bagus, sang preman pun mempunyai tarif tak jelas yang mesti kita bayar. Bagusnya ya bawa teman kita yang fotografer… hehe_kalau saya lebih memilih untuk meletakkan kamera di suatu tempat dan menggunakan timer.
4. Sabar menunggu “momen puncak”. Saat momen puncak inilah foto akan mempunyai ruh…(kira-kira begitu kata sang ahli: Arbain Rambey). Saat inilah kita harus memilih dan menentukan kapan harus klik shutter kamera untuk memotret sunset, lompat, dan sebagainya.

5. Jangan terpaku dengan pantai. Ombak, desir pasir, dan semilir angin memang begitu menggoda. Namun ada beberapa objek menarik lain yang ada di sekitar pantai, mislanya resort tempat kita singgah, warung kopi, pinggir pantai, rumah nelayan, dan sebagainya.

6. Siapkan charger atau baterai cadangan. Jangan sampai kita kehabisan baterai saat momen menarik masih berlimpah dan kita lewatkan.
Nah, untuk hari ini baru segitu-gitunya yang bisa saya bagi. Lain kali boleh nyambung deh. Sementara saya masih bermimpi mendapatkan kamera bagus semacam SLR, Tak ada salahnya Anda merencanakan liburan ke pantai lagi.

, , , ,

Leave a comment

Jalan-jalan ke Taman Kupu kupu Cihanjuang

Tempat ini memang belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan orang Bandung yang dekat dengan tempat in belum familiar dengan Taman Kupu-Kupu (Butterfly Park) Cihanjuang. Padahal, tempat ini bisa menjadi referensi jalan-jalan Anda di hari libur karena selain tempatnya yang relatif dekat (terutama bagi warga Bandung, Cimahi, dan sekitarnya), juga menyajikan pemandangan yang sangat menakjubkan.

Taman kupu-kupu Cihanjuang terletak di Cihanjuang, Kota Cimahi. Dari arah Bandung, kita bisa mengambil arah menuju Cimahi melewati Cimindi, sedikit menaik ke pertigaan Cihanjuang, kemudian belok kanan. Sekitar 500 m dari pertigaan itulah Taman kupu-kupu bisa kita jumpai. Jika kita mengambil arah sebaliknya, dari arah masjid agung Cimahi kita tinggal lurus saja menuju Bandung, sampai di pertigaan Cihanjuang belok kiri menempuh jalan yang sama. Selain rute tersebut, kita juga bisa mengambil arah dari Parongpong. Jika kita dari arah Lembang atau Bandung Utara, ambil rute melalui jalan Sersan Bajuri menuju Parongpong. Sekitar 200 m dari pasar Parongpong menuju Univ. Advent, kemudian dari seberang kampus tersebut belok kiri masuk ke jalan menuju Cihanjuang. Namun rute ini tidak saya rekomendasikan karena selain lebih jauh, jalannya juga tidak terlalu bagus. Hal yang sama juga akan Anda alami jika mengambil jalan dari daerah Sarijadi, jalannya kecil, Curam, dan berkelok-kelok.

Begitu sampai di lokasi kita akan disambut dengan udara segar dan suasana hijau yang asri. Tempat parkirnya luas namun sayangnya begitu terbuka dan berkerikil kasar. Selanjutnya gapura masuk ke lokasi yang dibuat klasik dan alami seakan menyedot kita untuk masuk ke dalamnya. Memasuki gapura, kita sebenarnya tidak benar-benar masuk ke lokasi “taman kupu-kupu”, tetapi kita baru masuk ke area umum saja. Di sana ada deretan balai-balai yang bisa dipakai untuk makan sekaligus pertemuan. Sedangkan di ujungnya ada juga aula besar serta arena bermain bagi anak-anak. Di sini kita bisa bersantai-santai sambil mengambil foto. Yah, meskipun di sini tidak ditemui banyak kupu-kupu, tapi penataannya cukup baik sehingga menyajikan view yang lumayan menarik.

Untuk masuk ke taman kupu-kupu yang berbentuk nursery, kita harus memasuki area “butik kupu-kupu”. Saya menyebutnya butik karena di sana ada pajangan anek akupu-kupu yang diawetkan, souvenir khas bertema kupu-kupu, serta tentunya pakaian dan merchandise khusus dari taman kupu-lupu. Barulah kemudian dengan tiket Rp. 20.000,- (Dua Puluh Ribu Rupiah) per orang kita boleh masuk ke dalam nursery, yaitu taman kupu-kupu yang sesungguhnya.

Tamannya tidak terlalu luas, bahkan menurut saya masih terlalu sempit untuk ratusan kupu-kupu yang beterbangan ke sana-ke mari. Menurut petugas yang saya temui, di sana sudah dapat kita temui sekita 50 spesies kupu-kupu dari sekitar Jawa Barat dan daerah lainnya di Indonesia. Tentunya yang menjadi promadona adalah jenis kupu-kupu besar dan cantik seperti dari kelompok Troides (Troides helena dan kawan-kawan), serta jenis Ornithoptera (Ornithoptera priamus dan kawan-kawan). Selain yang disebutkan di atas, tentunya maish banyak yang bisa kita jumpai dengan mata jeli.

Tak akan lelah berkeliling menikmati keindahan sayap kupu-kupu. Selain karena tempatnya memang tidak begitu luas, juga kita akan dilenakan oleh rasa penasaran pada setiap kepakan sayap yang kita lihat. Di salah satu pojok taman, kita bisa menemukan “rumah kepompong”. Di sanalah kepompong-kepompong itu berubah menjadi kupu-kupu. Jika waktunya tepat, kita bisa menyaksikan proses keluarnya sang kupu dari dalam kepompongnya, menggeliatkan sayap rapuhnya, dan memulai penerbangan pertamanya. Tak hanya itu, rumah kepompong juga dijaga oleh petugas yang akan dengan senang hati memberikan semua informasi yang kita tanyakan seputar dunia kupu-kupu.

Sebagai pelengkap tulisan ini saya perlihatkan beberapa foto yang beberapa di antaranya cukup sulit untuk didapatkan. Maklum, sarananya terbatas untuk jepret kupu-kupu yang tak mudah didekati.

  

Nah, bagaimana? Apakah Anda tertarik datang ke Taman Kupu-kupu Cihanjuang? Nah, sebelum Anda berangkat ke sana, ada baiknya mempersiapkan hal-hal berikut ini.

  • persiapkan informasi, jika perlu membawa peta atau datang dengan ornag yang pernah ke sana sehingga kita bisa mengambil jalan yang paling baik.
  • Jika ingin memotret, persiapkan sarana penunjang, misalnya kamera atau HP berkamera. Semakin, bagus sarana dan teknik yang kita gunakan, tentu saja semakin bagus hasilnya. Jangan lupa isi/charge baterai HP atau kamera Anda. (Pengalaman_baterai kamera saya habis, padahal masih ingin berfoto-foto)
  • Boleh bawa makanan, asal ingat, jangan membuang sampah sembarangan, dan tetap menjaga kebersihan, ketertiban, dan kelestarian sekitar taman, jangan sembarangan menangkap kupu, memetik bunga, dan perbuatan sembrono lainnya.
  • mintalah informasi yang lengkap kepada petugas untuk memperkaya pengetahuan kita.

Anda sudah siap? tunggu apa lagi? Let’s go!

7 Comments

theonly.wann’s photostream

up and down hill motorcyclevillagirlin mist want to break freecurious katty 2three bugketeers
a familysummer dewHeavy yellowwhite bordered purplelittle fungusescurious katty
ditelan jamanrosellasbells terestrial orchida pale rosewild torn flower
carrotwild jasmine alikelittle thrumpetfrost violetafter the rainwild herb 1

belajar jepret

Leave a comment

flower

a pale rosewild torn flowercarrotwild jasmine alikelittle thrumpetfrost violet
after the rainwild herb 1wild herb 2"kumis kucing"azalea after the raintricolor panda

flower, a set on Flickr.

foto-foto jepretan kamera pocket waktu mudik kemarin.

Leave a comment