theonlywann


PEMILU DAN LAHIRNYA “ORDE YANG PALING BARU*”
July 21, 2009, 12:11 pm
Filed under: boleh tidak setuju

Pemilu Legislatif telah rampung, komposisi DPR-MPR dan DPD hampir bisa ditentukan. Demikian juga Pemilu Presiden, hasilnya sudah hampir pasti dapat diketahui semua masyarakat di negeri ini.  Dengan meninggalkan beberapa catatan, Pemilu tahun ini telah menjadi kemenangan dari Partai Demokrat dengan para sekutunya dan SBY sebagai presiden untuk kedua kalinya.

Menilik kembali sejarah perjalanan kemerdekaan Bangsa Indonesia, negeri ini telah dipimpin oleh elit yang memiliki kekuatan dominan pada setiap “orde”nya. Mulai dari Orde Lama yang dipimpin Ir. Soekarno yang berpangkal pada Proklamasi Kemerdekaan 1945 dan berujung pasca krisis ’66. Berlanjut pada Orde Baru dipimpin Soeharto yang berpangkal sejak penumpasan kisruh ’66 dan berujung pada kisruh ’98. Kedua Orde ini telah mengantarkan bangsa Indonesia pada sebuah rencana pembangunan yang belum selesai, belum mencapai cita-citanya membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Kedua orde yang berlangsung sangat lama ini juga diwarnai dengan munculnya rezim yang menancapkan kekuasaannya dalam berbagai sisi kehidupan warga Negara Indonesia. Kecuali politik, rezim pun merambah ke dunia ekonomi, sosial-budaya, media massa, bahkan kehidupan beragama.

Jatuhnya orde baru disambung dengan rangkaian perjalanan yang menurut saya belum pantas disebut sebagai sebuah “orde” (baca: reformasi). Perlu waktu sampai kurang lebih satu dasawarsa untuk melahirkan sebuah orde selanjutnya. Sejak 1998-2008 nyaris tidak ada kekuasaan yang kokoh dan berlangsung lama. Pemerintahan semuanya hanya bersifat transisional, dan tidak mantap. Wajar jika para pengamat dan sejarawan menganggap reformasi yang digulirkan sebagai sebuah orde (orde reformasi) seringkali dianggap mati suri. Anggapan tersebut layak terjadi mengingat tidak lahirnya sebuah order alias tatakenegaraan yang benar-benar mantap, yang sesuai dengan cita-cita perjuangan para mahasiswa dan pejuang reformasi yang turun ke jalan sejak 1998 hingga saat ini.

Akhirnya pada tahun ini, melalui sebuah Pemilu yang dianggap “paling buruk” sepanjang catatan penyelenggaraan Pemilu di negeri ini, “Orde yang Paling Baru” pun muncul. Munculnya partai Demokrat sebagai pemenang mutlak pemilu Legislatif, dan SBY yang memenangkan Pilpres untuk melanjutkan pemerintahan 5 tahun sebelumnya merupakan lembaran baru sejarah bangsa Indonesia.

Orde yang Paling Baru telah muncul. Orde yang sejak dini telah menunjukkan indikasi lahirnya rezim baru telah mulai merambah ke segala sisi kehidupan bangsa. Kemenangan Demokrat dan SBY bukanlah hasil strategi kampanye yang jitu, melainkan hasil dari pembentukan pola pikir individu sekaligus public opinion yang positif tentang penguasa antara tahun 2004-2009 yang dipimpin presiden SBY. Rakyat memberikan simpati yang sangat besar terhadap Demokrat dan SBY, serta para pendukungnya. Simpati tersebut dibangun oleh setidaknya 3 hal, yaitu:

Pertama, program merakyat yang direalisasikan dalam bentuk BLT, PNPM, Raskin, sampai konversi minyak tanah ke gas yang diikuti pembagian kompor gas gratis untuk masyarakat miskin. Dengan program semacam ini rakyat sangat bersimpati terhadap penguasa tanpa sedikitpun bertanya-tanya dari mana biaya semua ini dan apa implikasinya bagi bangsa.

Kedua, reaksi empati masyarakat terhadap fakta maupun isu “lebay” yang menunjukkan bahwa SBY dan Demokrat serta para sekutunya tersakiti, terkhianati dan tercurangi. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap public opinion karena masyarakat tidak hanya berempati terhadap SBY dan pendukungnya, tetapi juga menimbulkan antipati terhadap lawan-lawan politiknya.

Ketiga, propaganda besar-besaran yang dilakukan oleh para pendukung SBY. Propaganda tersebut bukan cuma dilakukan oleh tim kampanye sesaat menjelang pileg dan pilpres, namun juga dilaukan oleh biro-biro pemerintahan, departemen pemerintahan yang notabene bagian dari kekuasaan yang ada, serta media massa yang cukup akomodatif. Hampir setiap departemen atau dinas di pemerintahan mengiklankan program-programnya serta mempublikasikan “keberhasilannya”. Padahal yang dianggap keberhasilan atau prestasi tersebut tidak lebih dari “sebagian kewajiban” yang bisa mereka tunaikan. Sebagai catatan saja, menjelang pemilu sangat ramai televisi yang menayangkan iklan yang membentuk public opinion tersebut. Iklan tersebut di antaranya dibuat oleh Depkominfo (selengkapnya klik disini), Depag (iklan tentang keberhasilan penyelamatan Aset), serta iklan tentang skala utang Indonesia dibanding negara lain di Asia (tidak mencantumkan pembuat iklannya), dan lainnya.

Gerakan propaganda ini sangat efektif, masiv, dan invisible bagi kalangan awam. Propaganda ini mirip sekali dengan yang dilakukan rezim orde baru yang saat itu dilakukan oleh departemen penerangan. Jika dibandingkan, Departemen penerangan saat itu tidak jauh berbeda dengan Depkominfo saat ini. Dalam tugasnya menjadi media sosialisasi dan publikasi program pemerintah, juga diboncengi oleh kepentingan propaganda politis. Hal ini diperparah dengan sikap penegak hukum yang  masih canggung menyikapi suara-suara rakyat. Protes sedikit melalui media masih dianggap subversif dan berbahaya sehingga harus dihukum dan ditangkap.

Simpulannya, Pemilu 2009 ini telah melahirkan sebuah “Orde Yang Paling Baru” yang tidak lain adalah perwujudan dari neo orde baru yang dijalankan secara halus dan sangat hati-hati namun tetap terencana dan terorganisasi secara rapi. Selanjutnya kita akan menunggu apakah orde yang paling baru ini sungguh-sungguh merealisasikan tujuan pembangunan untuk menjadikan manusia Indonesia seutuhnya dan mensejahterakan manusia Indonesia seluruhnya. Kita juga akan menunggu apakah akan hadir atau tidak akan hadir sebuah rezim baru sebagai bagian sejarah untuk diceritakan kepada anak-cucu kita.

Tabik

*salah satu judul lagu yang dipopulerkan oleh Iwan Fals dalam album Manusia ½ Dewa.



Brosur buku kerja dan buku latihan siswa
July 17, 2009, 3:20 pm
Filed under: Uncategorized

Apakah Anda membutuhkan buku-buku kerja dan buku latihan untuk siswa SD sampai SMA, Bagus, berlualitas namun dengan harga yang tetap terjangkau, silakan lihat dan download brosurnya disini.



DIOBRAL: Pendidikan Tinggi Indonesia

Banyak kalangan meragukan kualitas pendidikan Indonesia jika sekolah benar-benar digratiskan. Hal ini cukup beralasan mengingat pada kenyataannya sekolah elite yang juga biasanya mahal masih memegang predikat baik atau favorit. Di sisi lain pemerintah dan LSM terus-menerus menggemborkan pendidikan gratis untuk SD dan SMP, bahkan SMA mulai tahun 2009 ini. Sekolah gratis jelas memberikan ruang yang lebih banyak bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan. Sasaran pendidikan gratis adalah pemerataan pendidikan, arahannya kuantitas. Sementara itu, dalam hal kualitas kita harus menunggu 4-5 tahun lagi.

Masalah yang juga menyita perhatian dunia pendidikan datang dari pendidikan tinggi. Diberlakukannya UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) ditolak oleh berbagai kalangan. BHP dianggap sama dengan swastanisasi pendidikan tinggi. Artinya, kampus harus mendanai proses dan operasionalnya dengan usaha mandiri yang berdampak pungutan ekstra pada masyarakat. Pemerintah berdalih bahwa UU BHP akan merangsang peningkatan kualitas pendidikan tinggi dengan adanya semacam “otonomi” kampus. Ironis memang, mengingat pendidikan dasar dan lanjutan diusahakan untuk gratis, di sisi lain pendidikan tinggi menjadi mahal. Dan taruhannya adalah KUALITAS PENDIDIKAN INDONESIA.

Di saat merebaknya kekhawatiran akan mahalnya pendidikan tinggi tersebut, ada terobosan baru dari penyelenggara pendidikan tinggi yang saya temui di Bandung (mungkin juga ada di kota lain). Dengan poster yang sangat sederhana, cara mudah dan praktis untuk mendapatkan gelas S1 (Sarjana githuuuu) pun ditawarkan kepada masyarakat. Poster-poster pun ditempel di tempat-tempat strategis.

pendidikan-jelek

Perhatikan, saya menemukan poster ini tepat di tembok pagar rumah kost saya. Pendidikan kok diobral… Itulah yang terlintas dalam benak saya saat melihat poster ini. Bagaimana bisa kuliah S1 atau sarja dipatok akan lulus dalam 2,8 tahun alias lulusnya cepat? Padahal, secara reguler kuliah S1 minimal 4 tahun. Normalnya 4,5-5 tahun. Bahkan beberapa teman saya ada yang sampai 7 tahun.

Kerja keras, lika-liku, pedih perih, dan yang pasti lebih banyak ilmu dan pengalaman didapatkan dengan kuliah reguler ini. Namun, apa jadinya jika kuliah hanya 2,8 tahun? Mungkin beberapa orang setuju dengan ini karena ingin cepat lulus. Poinnya, pendidikan itu sebuah proses, bukan hasil. Jadi, iklan ini jelas menunjukkan bahwa pendidikan pada lembaga tersebut (saya samarkan namanya) tidak berorientasi pada proses yang benar, tetapi pada hasil berupa sebuah gelar SARJANA. Kualitasnya jelas harus dipertanyakan.

Di sisi lain, kredibilitas kampus ini juga wajar untuk dipertanyakan. Rasanya sangat tidak mungkin jika kampus yang berkualitas, bergengsi, serta memiliki bargaining position yang tinggi di masyarakat sampai memasang iklan seperti ini. Apakah kampus ini kekurangan peminat? Kok, sampai-sampainya bikin iklan dengan poster murahan di pinggir jalan. Iklan seperti ini juga akan menjadi boomerang bagi kampus tersebut. Citra kampus menjadi lebih buruk karena masyarakat akan menilainya sebagai kampus murahan yang mengobral gelar bagi peserta didiknya. Parahnya, pada poster tersebut juga dinyatakan “Terakreditasi BAN PT”. Entah terakreditasi A, B, C, atau yang lainnya, yang pasti menurut saya BAN PT harus meninjau ulang akreditasinya. Bukan hanya merusak citra kampus itu sendiri, tetapi juga merusak citra pendidikan tinggi di Indonesia alias “MALU-MALUIN”. cpcpcpcpcppcp……. pisss ah.